Selasa, 31 Juli 2012

19. Besar Setia-Mu (Great Is Thy Faithfulness) Thomas O. Chisholm, 1923 William M. Runyan, 1923 FAITHFULNESS 1=D 3/4 Versi 1 1: Besar setiaMu, Allah Bapaku, besarlah KasihMu berk’limpahan. Tiada kurang dan tidak berubah, sempurna dan tetap selamanya. Ref. Besar setiaMu, besar setiaMu, tiap hari nampak rahmat baru. S’gala yang ku perlu t’lah Hu sediakan besar setiaMu kepadaku. 2: Matahari serta bintang dan bulan, menyaksikan kesetiaan Tuhan. Musim menuai dan musim apapun, menyaksikan kasih setiaMu. 3: Pengampunan dosa memb’rikan damai, kehadiran Tuhan menghiburkan. Kekuatan dan penghiburan tiap hari, berkat berk’limpahan ku alami. Versi 2 1: Great is thy faithfulness, O God my Father; There is no shadow of turning with Thee; Thou changest not, Thy compassions, they fail not; As thou hast been, Thou forever will be. Ref. Great is Thy faithfulness! Great is thy faithfulness! Morning by morning new mercies I see. All I have needed thy hand hath provided; Great is Thy faithfulness, Lord, unto me! 2: Summer and winter and springtime and harvest, Sun, moon and stars in their courses above Join with all nature in manifold witness To Thy great faithfulness, mercy and love. 3: Pardon for sin and a peace that endureth Thy own dear presence to cheer and to guide; Strength for today and bright hope for tomorrow, Blessings all mine, with ten thousand beside!

kok bisa yah

Bacaan : Yesaya 37-39; Mazmur 76 Nats : Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel (Hakim-hakim 2:10) KOK BISA, YA? Bacaan : Hakim-hakim 2:6-14 "Kok bisa, ya? Padahal orangtuanya tidak begitu." Anda mungkin pernah mendengar ekspresi demikian ketika anak-anak muda dianggap tidak mengikuti teladan orangtuanya. Misalnya saja sang bapak pendeta, tetapi si anak terjerat narkoba; sang ibu guru Sekolah Minggu, tetapi si anak biang keributan. Herankah Anda? Atau Anda biasa melihat fenomena serupa? Saat mengamati ayat ke-10, mungkin Anda juga bertanya, "Kok bisa, ya?" Bukankah ayat 7 mencatat bahwa sepanjang hidup Yosua dan para tua-tua yang pernah dipimpinnya, bangsa Israel setia beribadah kepada Tuhan? Bagaimana mungkin angkatan sesudah mereka tak lagi mengenal Tuhan? Kita tak tahu pasti prosesnya, tetapi akibatnya terekam jelas: terbentuk generasi baru yang melakukan kejahatan di mata Tuhan, berpaling menyembah ilah lain (ayat 11-13). Sebab itu, Tuhan murka dan menyerahkan mereka ke tangan musuh (ayat 14). Besar kemungkinan, Ulangan 6:4-9 tidak lagi diterapkan secara konsisten oleh para orangtua. Ibadah-ibadah raya mungkin tetap berlangsung, tetapi anak-anak tidak memahami apa bedanya dengan ibadah bangsa lain. Mereka mungkin melihat ritualnya, tetapi tak mengenal Tuhan-nya. Lebih dari sekadar memperkenalkan gedung gereja dan membawa anak ke Sekolah Minggu, orangtua bertanggung jawab memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Dari hati yang mengenal dan mencintai Tuhan, akan lahir sikap beribadah kepada-Nya. Gereja perlu lebih bersungguh hati memperlengkapi para orangtua untuk bisa mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak, dan makin sering mengumandangkan peringatan ini: kelalaian generasi kita dapat menyebabkan kehancuran bagi generasi berikutnya. --ELS PENGENALAN AKAN TUHAN YANG DIPELIHARA DI TIAP KELUARGA AKAN MEWARISKAN IMAN YANG BERTUMBUH PADA GENERASI BERIKUTNYA.

Senin, 30 Juli 2012

Me


Hikmat dan kekayaan

Kejadian 41:17-36  Sumber utama hikmat dan kekayaan Kekayaan dan kekuasaan sering membuat orang lupa kepada Allah yang merupakan sumber kekayaan, kuasa, dan hikmat. Sebagai orang yang paling berkuasa dan paling kaya di Mesir, Firaun tidak membayangkan bahwa mimpi yang ia alami ternyata membuat dirinya ketakutan dan khawatir, apalagi setelah ia mendapati bahwa tidak seorang pun dapat mengartikan mimpi tersebut. Pengalaman Yusuf dalam menafsirkan mimpi juru minuman telah membawa dirinya bertemu orang paling berkuasa di Mesir. Melalui penjelasan Yusuf, Firaun bukan saja mendapat jalan keluar dari kekhawatirannya, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal Allah yang disembah oleh Yusuf. Melalui hikmat Tuhan kepada Yusuf, Firaun bukan saja mengetahui apa yang akan terjadi dengan kerajaannya, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan agar bahaya kelaparan tidak menghancurkan negerinya. Yusuf bukan saja telah menolong Firaun untuk melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi ia juga menolong Firaun untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan segera di masa sekarang. Sungguh ironis, bahwa orang yang paling berkuasa di Mesir harus meminta nasihat dari seorang tahanan. Namun jika ada Allah yang mengatur semua itu, maka segalanya mungkin. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa melalui kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat menjalankan rencana-Nya secara sempurna. Sekalipun kondisi Yusuf sangat jauh di bawah keadaan yang normal, namun Tuhan dapat mengubah kehidupan Yusuf secara seketika. Dari seorang tahanan di Mesir, menjadi seorang paling berkuasa setelah Firaun tidaklah mungkin terjadi tanpa pertolongan Tuhan. Tidak jarang kehidupan kita pun seolah terperosok begitu dalam hingga kita sulit melihat jalan keluar dari keadaan tersebut. Tetapi lihatlah bagaimana Tuhan dapat mengubah hidup Yusuf secara luar biasa. Sebagaimana Yusuf bergantung pada hikmat Tuhan, kita pun harus bergantung pada-Nya. Sebagaimana kuasa Tuhan telah mengubah Yusuf, kuasa yang sama itu juga mampu meluputkan kita.

Minggu, 29 Juli 2012

Bijaklah menggunakan LIDAHMU !!

Renungan Harian Senin, 16/07/2012 Senin, 16 Juli 2012 Bacaan Setahun : Yesaya 18-22 Nats : Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia ... dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. (Yakobus 3:9-10) BIJAK BERKATA-KATA Bacaan : Yakobus 3:1-12 Sariawan. Anda pernah mengalaminya? Luka di rongga mulut ini memang sangat mengganggu. Selain menimbulkan rasa sakit saat minum dan mengunyah makanan, ternyata sariawan juga bisa membuat Anda kesakitan saat berbicara. Apalagi jika letaknya di lidah. Ketika menulis renungan ini, ada dua buah sariawan di lidah saya. Akibatnya, saya sangat berhati-hati ketika berbicara, minum, dan makan. Kalau tidak benar-benar penting, saya memilih untuk diam. Walaupun tak mudah, itu lebih baik, daripada sakit. Bersikap hati-hati dalam berbicara, bukanlah hal yang mudah. Apalagi dalam keadaan kesal atau marah. Kebanyakan orang lebih suka mengungkapkan kekesalan atau amarahnya lewat kata-kata. Hal seperti itu sebenarnya wajar saja. Namun sayang, keadaan emosional mudah membuat seseorang kehilangan kendali. Akhirnya, kata-kata yang keluar adalah kata-kata kasar. Caci maki. Bahkan kutukan. Yakobus menegaskan fakta bahwa tidak ada orang yang sempurna dalam perkataannya (ayat 2); tidak seorang pun yang dapat menjinakkan lidah (ayat 8); lidah yang sama juga memuji Allah sekaligus mengutuki manusia (ayat 9-12). Mengerikan, bukan? Itulah sebabnya ia mengajar kita untuk mampu menguasai lidah dengan cara lambat berkata-kata dan juga lambat marah (Yakobus 1:9). Pepatah berkata: "Lidah tak bertulang". Kita harus belajar berhati-hati dan tidak tergesa-gesa mengucapkan sesuatu. Biarlah lidah kita dipimpin Tuhan untuk memuliakan nama-Nya dan memberkati orang-orang di sekitar kita. Bersikaplah bijak dalam berkata-kata. Setiap saat. Bukan ketika sedang sakit sariawan saja. --OKS ORANG YANG BERPENGETAHUAN MENAHAN PERKATAANNYA, ORANG YANG BERPENGERTIAN BERKEPALA DINGIN. -AMSAL 17:27 Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2012/07/16/ Renungan Harian. diambil dari sabda.org

Tolak ukur karakter seseorang

Bacaan : Yesaya 23-27 Nats : Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Timotius 6:10)
Richard Halverson, seorang penulis dan pendeta senat AS, pernah menulis: Yesus Kristus berbicara tentang uang lebih dari hal-hal lain, karena ketika tiba pada sifat alami manusia, uang memegang peran terpenting. Uang merupakan indeks yang tepat untuk menunjukkan karakter sejati seseorang. Di seluruh halaman Kitab Suci, ada kore- lasi yang sangat dekat antara perkembangan karakter manusia dengan cara ia menangani uangnya. Banyak tokoh di Alkitab yang dikecam, dihukum, atau dipuji oleh Allah karena sikap mereka terhadap uang. Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan Yesus demi tiga puluh uang perak. Ananias dan Safira rebah dan mati seketika setelah berdusta perihal uang yang mereka serahkan. Mereka adalah contoh orang-orang yang jatuh dalam pencobaan berkenaan dengan uang. Uang membuat mereka terjerat dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, hingga akhirnya menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka (ayat 10). Namun, ada kisah janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus karena memberi dari kekurangannya. Atau, jemaat Makedonia yang disebut Paulus sangat miskin, tetapi kaya dalam kemurahan (lihat 1 Korintus 8). Mereka ialah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan hati kepada Allah, lalu uang mereka. Uang hanya salah satu sarana yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Uang adalah berkat, bukti pemeliharaan Allah atas kita. Uang harus menjadi hamba kita. Jika kita cinta uang, uang akan menjadi tuan kita. Bagaimana Anda menangani uang? Mana yang lebih Anda cintai: Allah dan firman-Nya, atau ... uang? --SAR ALLAH HARUS MENJADI TUHAN ATAS DIRI KITA DAN JUGA UANG KITA.

Galau

Bacaan : Hosea 8-14 Nats : Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. (1 Tesalonika 3:5) Bacaan : 1 Tesalonika 3:1-13 Galau. Ini istilah yang ingin menunjukkan sebuah perasaan yang tidak keruan, tidak tenang, atau risau, apapun penyebabnya. Ketika seseorang menjumpai sebuah kondisi yang membuat ia merasa tak keruan dan tak tenang, sepertinya ia berhak merasa galau. Namun, mungkin saja setelah ditelusuri, sebenarnya rasa galau bisa berasal dari hal yang sangat sepele dan kurang tepat dijadikan penyebab kegalauan. Paulus pernah galau dan itu sangat memengaruhi perasannya. Namun, kegalauan itu tak membuatnya duduk merenung dalam nestapa. Ia menindaklanjuti rasa galaunya dengan mengirim Timotius mengunjungi jemaat Tesalonika. Ia berharap Timotius bisa menasihati dan menghibur mereka (ayat 2). Rasa galaunya pun berubah menjadi sukacita setelah ia mendengar kabar dari mereka (ayat 6-7). Rasa galau itu sesungguhnya bersumber pada cintanya kepada orang-orang yang ia layani. Perasaannya tak keruan karena ia tidak dapat mengikuti perkembangan pelayanannya. Ia juga risau kalau-kalau orang-orang yang ia layani mengalami kesulitan bertumbuh. Saya menyebut ini sebagai rasa galau yang ilahi. Betapa berharganya rasa galau yang tidak bersumber pada diri kita sendiri. Galau yang ilahi terjadi ketika kita mencoba satu perasaan dengan Tuhan. Selama ini, seberapa dalam kita peduli dengan pelayanan kita? Pernahkah kita merasa hati tidak keruan ketika melihat orang yang kita layani tidak bertumbuh sebagaimana mestinya? Juga, karena pelayanan yang kita jalani tidak berjalan sebagaimana kita harapkan? Lalu, bagaimana selama ini kita menindaklanjuti kecemasan seperti itu?  "KITA BOLEH MERASA RESAH APABILA KITA YAKIN BAHWA ITU PUN YANG SEDANG DIRASAKAN ALLAH."

Selasa, 24 Juli 2012

Panjinya adalah CINTA

Dua kata Ibrani, degel dan nes, diterjemahkan dengan ‘panji-panji’. Panji-panji ini berguna:
Untuk mengenali masing-masing kelompoknya atau sukunya (Bilangan 1:52).
Sebagai pemersatu (Yesaya 11:12).
Sebagai penuntun kepada kota yang aman (Yeremia 4:6).
Sebagai simbol kebanggaan dan kemenangan dalam peperangan (Yeremia 4:21).
Sebagai tanda yang menyertai suatu pengumuman (Yeremia 50:2).
Sebagai tanda untuk membunyikan sangkakala (Yesaya 5:26).


Salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan panji ini adalah ketika terjadi peperangan antara Bangsa Israel melawan orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Musa mengangkat tangan sebagai panji hidup yang bilamana tangan itu terangkat, maka Israel dapat mengalahkan musuhnya. Sebaliknya, bila tangan Musa turun, maka Bangsa Amaleklah yang menang. Dengan dibantu oleh Harun dan Hur dengan menopang tangan Musa sebagai panji hidup itu, maka orang Israel memukul kalah musuhnya. Setelah kemenangan ini Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: Tuhanlah panji-panjiku (Yehova Nissi).

Bila Tuhan adalah panji-panji kita juga, maka panji-panji itu adalah kasih. Sebab firman Tuhan berkata bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih inilah yang menjadi jaminan kemenangan kita. Firman Tuhan berkata, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:32)? Kasih ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan umat Allah. Setiap hari mereka berjalan dengan panji-panji kasih ini. Dan selama kita hidup di dalam kasih, maka panji kasih Allah ini akan tetap terangkat. Sebagaimana tangan Musa terangkat, maka kemenangan menjadi milik kita.

Tetapi apabila kita mulai mempunyai akar kepahitan, berarti kita tidak hidup di dalam kasih. Panji itu mulai kita turunkan tanpa kita sadari. Dan sebagaimana Bangsa Israel mengalamai kekalahan apabila panji itu diturunkan, demikian juga dengan kita. Kita akan mengalami kekalahan demi kekalahan selama panji itu tidak kita tegakkan kembali. Karena itu jangan menyimpan dendam dan kemarahan kepada saudara-saudara kita. Hal itu akan merugikan Anda sendiri. Mungkin akibat buruk ini tidak langsung nampak, tetapi lambat laun kekalahan itu semakin nyata dan tahu-tahu Anda berada di tepi jurang kebinasaan.

Renungan:
Camkan dalam hati bahwa setiap orang percaya adalah orang-orang yang berada dalam barisan pasukan Allah dengan panji-panji yang dikibarkan. Pasukan ini adalah pasukan yang telah ditentukan untuk menang. Hanya Anda sendiri yang tidak dapat menikmati kemenangan apabila Anda tidak hidup dalam kasih.

Allah memberikan kemenangan, kita menjaga kemenangan itu.

Senin, 23 Juli 2012

Sama dengan Binatang

Seorang pemimpin pemberontak diberikan kebebasan penuh untuk meminta sesuatu sebelum ia dihukum pancung. Karena selama ini keinginannya untuk menjadi seorang raja belum kesampaian, maka ia minta untuk bisa duduk di kursi raja dan dilayani sebagaimana layaknya seorang raja. Permintaan itu dituruti. Selama 3 hari sebelum deadline itu ia diberi jubah raja, tongkat kerajaan, dan dayang-dayang yang siap melayaninya. Ia juga disiapkan hidangan yang lezat-lezat setiap hari. Sayang, itu hanya berlangsung 3 hari saja sebelum datangnya hari penghukuman!

Saudara, tidakkah ini yang terjadi dengan manusia yang selalu berpikir untuk kesenangannya sendiri? Mereka mengira bahwa hidup mereka hanya berakhir di bumi ini saja. Mereka sengaja mengabaikan akan adanya pengadilan Ilahi. Orang-orang semacam ini tidak ubahnya dengan pemimpin pemberontakan yang akan dihukum pancung. Dalam hidup mereka di dunia ini mereka hidup tanpa memperdulikan hukum Allah. Yang mereka pikirkan adalah kepuasan daging saja. Bahkan Petrus dengan berani berkata, “Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar” (2 Petrus 2:12).

Biasanya dalam surat-suratnya, perkataan Petrus tidaklah “segalak” surat-surat Paulus. Tapi kali ini ia membuat suatu pernyataan yang pasti menyinggung perasaan para pengumbar nafsu, sebab Petrus menyamakan mereka dengan binatang yang dilahirkan hanya untuk ditangkap dan dimusnahkan. Saya pikir, anjing pudel masih lebih berharga, sebab binatang ini disukai dan dipelihara banyak orang. Coba Anda pikir, binatang apakah yang terlahir hanya untuk dimusnahkan? Kecoakkah? Lalatkah? Tikuskah? Atau adakah bintang lain yang lebih “rendah” lagi?
Bersyukurlah, Anda sebagai orang percaya bukanlah orang yang dimaksud oleh Petrus. Anda adalah orang-orang yang berharga di mata Allah. Tidak hanya itu saja, bahkan melalui Petrus pula Allah menyatakan bahwa kita adalah “…. bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri….” (1 Petrus 2:9).

Renungan:
Kalau Anda adalah seorang pemuda dengan semangat membara, janganlah kobarkan semangatmu itu pada tempat yang salah atau untuk kepuasaan dagingmu. Melainkan, kobarkan semangatmu untuk melayani Allah dan sesama. Kalau tidak, Yesus akan tampil sebagai Hakim untuk mengadilimu dan menghukummu.

Banyak orang tidak mau dipanggil “binatang”, tapi perbuatan mereka menyatakan demikian.

 Ayat Bacaan : Pengkhotbah 11:9-12:8; 2 Petrus 2:9-12

“Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan”
(Pengkhotbah 11:9)

Oang Sabar


 Ayat Bacaan : Pengkhotbah 10:1-20; 2 Petrus 3:9

“Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar
” (Pengkhotbah 10:4)

Pada suatu hari Abraham mengundang seorang pengemis dalam kemahnya untuk “lunch” (santap siang). Ketika Abraham sedang memanjatkan doa makan, pengemis itu bergumam sambil menghujat Allah. Meskipun tidak terlalu keras, tapi suara itu sangat jelas terdengar di telinganya dan ia sangat gusar mendengar kata-kata itu.
Dengan marah Abraham mengusir pengemis itu sebelum ia sempat menikmati santapan siangnya.

Pada malam hari saat Abraham berdoa, Tuhan berkata kepadanya, “Pengemis tadi siang mengutuki dan menjelek-jelekkan Aku sudah 55 tahun, dan Aku memberinya makan setiap hari. Engkau tidak tahan dengan dia satu hari saja?”
Bukan berita baru lagi kalau dikatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang sabar, seperti Alkitab katakan, “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa……” (Nahum 1:3). Kalau kita pikir, berapa juta kali Allah harus menerima hujatan orang-orang fasik di muka bumi ini dalam satu hari saja? Tapi lihatlah apa yang dilakukan-Nya? Ia tetap sabar terhadap orang-orang berdosa. Ia tidak pernah menampar seorang penghujat Allah saat ia berbicara, meskipun sebenarnya itu bukanlah pekerjaan sulit. Kalau seandainya Ia berbuat demikian, bayangkan, ada berapa juta manusia yang mati dalam satu hari saja? Ya, Allah sabar, tapi dengan catatan Ia mau supaya semua manusia dapat mengenal kebenaran dan bertobat serta kembali ke jalan yang benar. Tidakkah Anda lihat betapa besar kasih yang Allah berikan kepada manusia?
Tidak demikian halnya dengan manusia.
Anda seringkali tidak tahan mendengar orang-orang yang menyebar gosip menjelek-jelekkan nama Anda. Satu kali, masih oke. Dua kali, tak apa-apalah. Tiga kali, telinga ini mulai merah, ungu, hitam….. lalu tangan ini tiba-tiba melayang ke pipi penyebar gosip itu. Anda tidak tahan dengan perlakuan orang itu. Tapi apakah tindakan Anda membalas itu sesuai dengan ajaran Kristus? Yesus sendiri berkata, “…….. Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39). Apa arti ayat ini? Apakah Yesus mengajarkan suatu tindakan yang berlawanan dengan “prinsip kejantanan”? Tidak! Kalau Anda ingin dikatakan “jantan” menurut prinsip kerajaan Allah, Anda harus bersikap sabar terhadap musuh Anda dan tetap mengasihi mereka. Emosi Anda jangan mudah terpancing, karena emosi yang tak terkendali akan mencelakakan diri Anda sendiri.

Renungan:

Kalau Anda menjadi orang yang sabar, dalam pengertian tidak terburu-buru dalam bertindak, tidak mudah meluapkan emosi, dan mampu menguasai diri, akan banyak kesalahan yang dapat Anda hindarkan. Pikirkan, berapa kali Anda harus menyesal hanya gara-gara Anda tidak dapat menguasai diri dengan baik.

Semakin Anda bersabar, semakin sedikit musuh Anda.

Pesta Yang Sama

Pada bulan September 1998, mantan Presiden Soeharto mendapat penghargaan dari administrator UNDP (Program Pembangunan PBB), James Gustave Speth, karena keberhasilannya mengentas kemiskinan di Indonesia. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Hantaman krismon yang tanpa pandang bulu hingga sekarang ini mengubah senyum kebanggaan itu menjadi senyuman yang getir. Krisis ini menjungkirbalikkan target pemerintah bahwa Indonesia akan berhasil mengentas kemiskinan pada akhir pelita VI (th. 2005).

Sebelum krisis jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan “cuma” sekitar 27 juta jiwa, kini tiba-tiba menggelembung menjadi tidak kurang dari 80 juta jiwa. Bahkan ada kecenderungan angka itu terus membengkak hingga menyentuh 100 juta jiwa. Tragis!
Apakah krisis ini tidak berdampak bagi jemaat Allah? Anda merasakannya? Jelas! Tanpa terkecuali krisis ini telah melanda ke berbagai lapisan masyarakat. Tapi kalau Anda termasuk orang yang lolos dari krisis ini dan keadaan ekonomi Anda tidak berubah, malahan Anda mungkin semakin diuntungkan dengan naiknya nilai dolar, firman Tuhan mengatakan supaya Anda tidak melalaikan mereka yang “sempoyongan” karena “upper cut” si raja KO, krismon.
Allah begitu peduli dengan orang-orang demikian, bahkan Yakobus pernah menghardik sebuah jemaat yang membuat pembedaan antara si kaya dan si miskin. Si kaya diberi kursi yang empuk, sedangkan si miskin disuruh berdiri (Yakobus 2).

Di mata Allah, harga jiwa si miskin dengan si kaya tidak ada bedanya. Kalau ada seorang konglomerat bertobat, maka seluruh malaikat Allah bersorak-sorai (Lukas 15:10). Demikian juga kalau ada pengemis bertobat, maka seluruh malaikat pun juga bersorak-sorai dengan sorakan yang sama, sukacita yang sama, dan pesta yang sama. Tapi kenyataannya, gema konglomerat yang bertobat lebih membahana daripada Mas Dul, sang penarik becak, yang bertobat. Lihat saja kabar dari mulut ke mulut yang keluar dari orang Kristen. Mereka berceloteh dengan semangat, “memuji kebesaran Tuhan” karena kebaikan-Nya. Mereka terharu, menangis, dan lain sebagainya karena konglomerat yang bertobat itu. Padahal dalam saat yang sama, Mas Dul juga berdiri di samping sang konglomerat saat altar call itu. Anehnya, nama ‘Dul’ tidak pernah disebut-sebut dan pendeta setempat pun kelihatannya lebih antusias menyambut sang konglomerat itu daripada Mas Dul. Tapi yang terpenting adalah keduanya sama-sama telah menerima keselamatan dan para malaikat merayakan keselamatan dua orang itu dengan pesta yang sama!

Renungan:
Saudara, Anda harus bertobat kalau selama ini Anda lebih memperhatikan orang-orang kaya daripada mereka yang ada dalam kesusahan. Kalau Allah tidak pernah membuat pembedaan, bukankah Anda juga harus mempunyai sikap yang sama?

Semua anak Allah yang bertobat ditulis-Nya dengan tinta emas dalam buku-Nya.

Ayat Bacaan : Pengkhotbah 9:13-18; Yakobus 2:1-4

“…… tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu”
(Pengkhotbah 9:15)