Selasa, 24 Juli 2012

Panjinya adalah CINTA

Dua kata Ibrani, degel dan nes, diterjemahkan dengan ‘panji-panji’. Panji-panji ini berguna:
Untuk mengenali masing-masing kelompoknya atau sukunya (Bilangan 1:52).
Sebagai pemersatu (Yesaya 11:12).
Sebagai penuntun kepada kota yang aman (Yeremia 4:6).
Sebagai simbol kebanggaan dan kemenangan dalam peperangan (Yeremia 4:21).
Sebagai tanda yang menyertai suatu pengumuman (Yeremia 50:2).
Sebagai tanda untuk membunyikan sangkakala (Yesaya 5:26).


Salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan panji ini adalah ketika terjadi peperangan antara Bangsa Israel melawan orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Musa mengangkat tangan sebagai panji hidup yang bilamana tangan itu terangkat, maka Israel dapat mengalahkan musuhnya. Sebaliknya, bila tangan Musa turun, maka Bangsa Amaleklah yang menang. Dengan dibantu oleh Harun dan Hur dengan menopang tangan Musa sebagai panji hidup itu, maka orang Israel memukul kalah musuhnya. Setelah kemenangan ini Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: Tuhanlah panji-panjiku (Yehova Nissi).

Bila Tuhan adalah panji-panji kita juga, maka panji-panji itu adalah kasih. Sebab firman Tuhan berkata bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih inilah yang menjadi jaminan kemenangan kita. Firman Tuhan berkata, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:32)? Kasih ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan umat Allah. Setiap hari mereka berjalan dengan panji-panji kasih ini. Dan selama kita hidup di dalam kasih, maka panji kasih Allah ini akan tetap terangkat. Sebagaimana tangan Musa terangkat, maka kemenangan menjadi milik kita.

Tetapi apabila kita mulai mempunyai akar kepahitan, berarti kita tidak hidup di dalam kasih. Panji itu mulai kita turunkan tanpa kita sadari. Dan sebagaimana Bangsa Israel mengalamai kekalahan apabila panji itu diturunkan, demikian juga dengan kita. Kita akan mengalami kekalahan demi kekalahan selama panji itu tidak kita tegakkan kembali. Karena itu jangan menyimpan dendam dan kemarahan kepada saudara-saudara kita. Hal itu akan merugikan Anda sendiri. Mungkin akibat buruk ini tidak langsung nampak, tetapi lambat laun kekalahan itu semakin nyata dan tahu-tahu Anda berada di tepi jurang kebinasaan.

Renungan:
Camkan dalam hati bahwa setiap orang percaya adalah orang-orang yang berada dalam barisan pasukan Allah dengan panji-panji yang dikibarkan. Pasukan ini adalah pasukan yang telah ditentukan untuk menang. Hanya Anda sendiri yang tidak dapat menikmati kemenangan apabila Anda tidak hidup dalam kasih.

Allah memberikan kemenangan, kita menjaga kemenangan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar