Ayat Bacaan : Pengkhotbah 10:1-20; 2 Petrus 3:9
“Jika amarah penguasa menimpa engkau, janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar” (Pengkhotbah 10:4)
Pada suatu hari Abraham mengundang seorang pengemis dalam kemahnya untuk “lunch” (santap siang). Ketika Abraham sedang memanjatkan doa makan, pengemis itu bergumam sambil menghujat Allah. Meskipun tidak terlalu keras, tapi suara itu sangat jelas terdengar di telinganya dan ia sangat gusar mendengar kata-kata itu.
Dengan marah Abraham mengusir pengemis itu sebelum ia sempat menikmati santapan siangnya.
Pada malam hari saat Abraham berdoa, Tuhan berkata kepadanya, “Pengemis tadi siang mengutuki dan menjelek-jelekkan Aku sudah 55 tahun, dan Aku memberinya makan setiap hari. Engkau tidak tahan dengan dia satu hari saja?”
Bukan berita baru lagi kalau dikatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang sabar, seperti Alkitab katakan, “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa……” (Nahum 1:3). Kalau kita pikir, berapa juta kali Allah harus menerima hujatan orang-orang fasik di muka bumi ini dalam satu hari saja? Tapi lihatlah apa yang dilakukan-Nya? Ia tetap sabar terhadap orang-orang berdosa. Ia tidak pernah menampar seorang penghujat Allah saat ia berbicara, meskipun sebenarnya itu bukanlah pekerjaan sulit. Kalau seandainya Ia berbuat demikian, bayangkan, ada berapa juta manusia yang mati dalam satu hari saja? Ya, Allah sabar, tapi dengan catatan Ia mau supaya semua manusia dapat mengenal kebenaran dan bertobat serta kembali ke jalan yang benar. Tidakkah Anda lihat betapa besar kasih yang Allah berikan kepada manusia?
Tidak demikian halnya dengan manusia.
Anda seringkali tidak tahan mendengar orang-orang yang menyebar gosip menjelek-jelekkan nama Anda. Satu kali, masih oke. Dua kali, tak apa-apalah. Tiga kali, telinga ini mulai merah, ungu, hitam….. lalu tangan ini tiba-tiba melayang ke pipi penyebar gosip itu. Anda tidak tahan dengan perlakuan orang itu. Tapi apakah tindakan Anda membalas itu sesuai dengan ajaran Kristus? Yesus sendiri berkata, “…….. Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39). Apa arti ayat ini? Apakah Yesus mengajarkan suatu tindakan yang berlawanan dengan “prinsip kejantanan”? Tidak! Kalau Anda ingin dikatakan “jantan” menurut prinsip kerajaan Allah, Anda harus bersikap sabar terhadap musuh Anda dan tetap mengasihi mereka. Emosi Anda jangan mudah terpancing, karena emosi yang tak terkendali akan mencelakakan diri Anda sendiri.
Renungan:
Kalau Anda menjadi orang yang sabar, dalam pengertian tidak terburu-buru dalam bertindak, tidak mudah meluapkan emosi, dan mampu menguasai diri, akan banyak kesalahan yang dapat Anda hindarkan. Pikirkan, berapa kali Anda harus menyesal hanya gara-gara Anda tidak dapat menguasai diri dengan baik.
Semakin Anda bersabar, semakin sedikit musuh Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar