Minggu, 12 Mei 2013


Belajar tentang Kesabaran

Anda ingin sabar? Belajarlah dari petani. Mereka menyiapkan tanah, membongkar, membersihkan; memilih benih, menanam, mengairi, menambahkan pupuk seperlunya, lalu menanti dan menanti.
Setiap pagi dan sore, ia datang membungkuk, melihat cermat, memperhatikan, tunas-tunas hijau lembut menembus gundukan tanah. Ketika mulai tumbuh, mereka menyiasati datangnya hama, entah kawanan tikus, belalang atau unggas, entah himpitan rumput dan semak ilalang. Terkadang mereka bersenandungriang dan dengan jemarinya yang keras kasar, membelai lembut tunas-tunas hidup yang baru. Yesus, sang anak tukang kayu, memahami kesabaran seorang petani, dan keberhasilan dari benih-benih baik yang berasal dari Allah, serta pertumbuhannya yang akan indah pada waktunya. Kerajaan Allah, kebaikan danpersaudaraan sejati, akan tumbuh, bermula dari benih taburan Allah, makin besar dan kokoh dan terbuka untuk segala lapisan umat manusia.
Saudara-saudariku, cukupkah kita bersabar dan yakin akan benih kebaikan yang Allah taburkan dan ikut pelihara dalam hidup, dalam tugas, dalam misi kita? Mudahkah kita putus asa dan menyerah dalam membangun rumah tangga tangga, komunitas dan paroki? Apakah kita memaksakan kekerasan? Cukupkah kita mengandalkan Allah dan memohonkan Roh KudusNya untuk inspirasi dan tuntunan?

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar

 Lukas 16:9-15: "Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.""Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah."

Renungan:

Suatu kali saya bertemu dengan seorang pengusaha. Kebetulan saat ini perusahaannya bertumbuh dengan baik. Ketika saya tanyakan, bagaimana awalnya dia terjun dalam dunia usahanya ini dan caramengembangkannya. Menurut ceritanya, dia mengawali usahanya karena didesak oleh kebutuhan menyediakan susu untuk anak-anaknya. Sebagai langkah awal dia membuat suatu produk yang mudahnamun dibutuhkan banyak orang. Dia menekuni yang sederhana itu dan sekarang ini dia pun mampu membuat hal-hal yang sangat rumit dan bermutu dengan kuantitas yang sangat besar.

Yesus bersabda, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." Kadang kita meremehkan perkara-perkara kecil, entah karena bila melakukan hal tersebutgengsi kita tidak terangkat, entah karena kita terobsesi pada hal-hal besar atau pun alasan-alasan yang lain. Namun mengerjakan perkara-perkara kecil dengan setia akan melatih kita agar teliti, cermat danberdaya tahan. Pelatihan ini akan membentuk karakter kita. Dan bila hal itu kita lewati, kita akan bisa melakukan yang lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Bila ingin mengerjakan yang besar dengan baik, lewatilah dahulu hal-hal kecil dengan sempurna.

Minggu, 11 November 2012

ARIES

Ramalan Bintang ARIES (The Ram)
Tanggal Zodiak: 21 maret - 20 April 
Sifat: Cardinal, Api, Personal
Kata Kuncinya: "I am" (aku)
Kesehatan: Perlu perhatian ekstra pada Kepala dan Tengkorak
Ramalan Bintang: Dipengaruhi oleh Planet Mars
Batu Kelahiran: Berlian
Nomor Keberuntungan : 2,5,11,34,47
Bunga Keberuntungan : Bunga Daisy
Warna Keberuntungan : Merah
Elemen Keberuntungan : Api
Pasangan Serasi : Sagittarius Bebas, asertif, individualistik, impulsif, intelektualitas tinggi, keras kepala, ingin menjadi yang terdepan, pemimpin, action oriented (berorientasi pada aksi), Intemperate (tidak terkendali), cenderung ke arah kekerasan, fiery, (berapi-api), straight-forward (berterus terang), ekstrem, sombong (arogan), passionate (penuh dengan nafsu), powerfull (sangat kuat), ada sifat suka menyendiri (loner), fredom-loving (menyukai cinta yang bebas dan tidak terikat)

Yang Anda sukai: 
Orang yang tulus, kebebasan, kesibukan, tertawa terhadap lelucon dan film seram (kadang-kadang).

Yang tidak Anda sukai: 
Gosip, rekan yang gampang berubah mood, dipandang remeh, dan Anda sangat benci kebohongan.

Kemampuan terbaik Anda:
 Memimpin kelompok, mendorong diri anda sendiri sampai batas, dan membuat keputusan yang rumit.

Diri Anda yang dalam
Anda adalah orang yang sensitif dan lembut, dengan keinginan besar untuk hidup dan mencintai. Anda bermimpi untuk memiliki sekelompok teman, lingkungan yang menyenangkan dan liburan yang penuh petualangan liar.

Karir Anda
Pilihlah pekerjaan di penerbitan, dunia hiburan, atau dakilah tangga menuju puncak pimpinan. Dimanapun anda bertugas untuk menangani proyek yang menarik dan menantang.

Busana
Pakaian ketat dengan warna yang menyala (terutama merah) akan nampak indah pada diri anda - begitu juga pakaian sporty atau apapun yang lagi ngetrend. Baju yang mengembang dan kecewekan tidak akan cocok untuk gaya anda.

Sebagai teman
Tipe yang ramah dan fokus, anda ingin semua orang bahagia. Anda tidak tahan dengan ketidak jujuran atau orang yang membicarakan anda dibelakang anda, dan anda tidak malu mengkonfrontasi mereka jika mereka membicarakan anda seperti itu.

Sebagai pacar (cewek)
Anda memimpin hubungan, menggoda pacar Anda dengan ciuman penuh gelora dan terkadang meremas pantat cowok Anda dengan sembunyi-sembunyi. Jika dia memang menginginkan Anda, maka ia akan membalas dengan kencan hot dan berbagai hadiah.

Jika cowok Anda Aries
Ia tidak suka selalu ‘ada’, jadi terkadang biarkanlah ia bebas dan berpura-puralah bahwa pada saat itu ia memang benar-benar bebas. Puji dia dengan mengatakan bahwa ia cerdas, hebat, dan menarik, dan ia akan memakan semua pujian itu. Tetapi berhati-hatilah dengan emosinya, ia akan sangat mengerikan jika marah. Bermainlah dengan tenang sampai ia ikut mendingin dan tunggu sampai ia meminta maaf. Pasti dia yang salah kan?

Selasa, 18 September 2012

Love Love Love


Cinta … Cinta … Dan, cinta! Selalu terlihat rumit dan sangat sulit untuk mengerti. Kamu merasa seperti jantungmu berhenti berdetak sejenak ketika melihat dia yang kamu cinta. Cinta, kita mendengar begitu banyak kisah dan tentu saja sakit hatinya juga.
Dalam cinta, kamu bisa berkomitmen dirimu dengan seseorang yang istimewa di hatimu bahwa kamu ingin menghabiskan sisa hidup ini bersama-sama. Kamu berusaha untuk membangun sebuah persahabatan yang akan mengikat cinta kamu dan dia selamanya.
Namun, ada sebagian orang yang tak pernah berhasil dalam melakukannya. Mereka yang begitu merindukan seseorang untuk mencintai dan dicintai, tapi begitu sulit bagi mereka untuk menemukannya di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan dengan orang yang tepat. Kemudian membuatnya menyadari bahwa mencintai seseorang itu tak mudah sama sekali.
Berikut adalah beberapa kenyataan yang menyakitkan dalam cinta:
  1. Kamu menemukan cinta yang sempurna, tapi dalam waktu yang salah.
  2. Kamu menemukan dia yang sempurna, tapi dia tak mencintaimu.
  3. Kamu akhirnya menemukan dia yang sempurna, tapi kamu harus setia pada dia yang mencintaimu.
  4. Kamu memiliki wajah yang sempurna, tapi tak ada seorangpun yang ingin serius denganmu.
  5. Kamu menemukan dia yang memiliki kepribadian menyenangkan, tapi dia hanya ingin berteman.
  6. Kamu memiliki pikiran yang menakjubkan, tapi hati yang sangat rapuh.
  7. Kamu akhirnya menemukan keberanian untuk ungkapkan cinta, tapi segalanya telah terlambat.
  8. Kamu akhirnya berani mencinta, tapi dia yang ingin kamu cinta telah ada yang punya.
  9. Kamu akhirnya berani mencinta, tapi kamu tak tahu harus bagaimana memulainya.

Entah hrs ku mulai dari mans


Entah harus dari mana kumulai kata pembuka hatiku. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu saja seperti terhipnotis, kamu membuatku lupa akan segalanya. Wajahmu selalu saja hadir dan menimbulkan akan rasa lupa yang membingungkan pada wajah-wajah wanita lain yang pernah kucintai sebelumnya, begitu kuatnya.
Aku tak pernah tahu dari jurusan mana kamu datang. Tiba-tiba kamu hadir begitu saja, membawa keremangan takdirku. Kamu membekap hatiku dalam kebimbangan cinta—tanpa arah, tanpa tujuan pasti, tapi aku suka. Entah kamu anugerah ataukah mungkin malah penderitaanku.
Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Perpustakaan adalah kata kuncinya. Entah kenapa aku selalu memilih meja dan kursi yang sama demi membaca buku, mungkin karena tata letaknya yang dekat dengan jendela hingga aku bisa merasakan sepoi angin membelaiku. Saat itu kutemukan sebuah buku agenda di atas meja tempat biasanya aku membaca buku-buku perpustakaan. Kubuka lembaran pertama buku agenda itu. Nama dan nomor handphone pemiliknya tertulis jelas pada lembaran pertama. Dari situlah akhirnya aku mengenalmu—kamu adalah pemilik buku agenda itu.
Paling tidak seminggu dua kali kita selalu menyempatkan diri untuk bertemu di perpustakaan, di meja yang sama. Kita selalu membahas bacaan yang sama, sajak yang sama, novel yang sama, filsafat yang sama. Tapi kita tidak pernah membahas tentang cinta yang sama.
Padahal ingin sekali aku mendongengkan tentang cerita kerajaan hatiku padamu. Ingin sekali aku berlutut didepanmu dan meneriakkan yel-yel di perpustakaan ini ”Aku cinta padamu Laras, aku sayang padamu Laras….”, tanpa peduli dengan tulisan ’harap tenang’ yang tertempel disetiap sudut temboknya, tanpa peduli pada amukan penjaga perpustakaan yang matanya melotot seperti penjagal berdarah dingin dan suaranya yang seperti petir menggelegar itu.
Namun mulutku selalu saja terkunci, lidahku kelu. Entah kenapa tubuhku selalu bergetar, menggigil dalam euforia dan ketakutan bercampur baur. Ungkapan hatiku selalu saja terhalang dengan kepengecutanku. Ataukah karena aku takut kamu tolak?
Ataukah karena aku tak berhasrat untuk menyatakan cinta? Karena aku sering merasa seolah-olah jiwaku, dalam dunia kehidupan khayalku, berdekatan sangat erat denganmu, jiwaku dan jiwamu dengan esensi dan substansi yang sama, telah ditakdirkan untuk bersama, dan itu telah cukup bagiku — apakah aku seorang pecinta yang bodoh?
Hari itu di tempat biasa kita bertemu, kamu menyodorkan potret seorang lelaki kepadaku. Ah, hatiku serasa dilandai badai. Dia tampan, katamu. Tapi aku hanya diam membisu kelu tak berbahasa dalam kata. Kutatap potret itu, entah kenapa hatiku sepertinya sedih, tapi disisi lain aku bahagia. Sedih karena teriris perih ngilu pilu disayat sembilu luka cinta. Dan bahagia jika kamu memang telah menemukan kebahagian bersama lelaki pilihanmu.
Kukembalikan potret itu ke dalam tanganmu, kuberikan gurat senyum paksa. Lantas kamu menyimpannya kembali kedalam dompetmu, kusimpan pula lembaran hatiku jauh dalam almari angan-angan.
”Gimana tampan kan?” tanyamu lagi. Rupanya kamu seorang gadis yang butuh penegasan. Aku hanya menjawab dengan anggukan setengah terpaksa saja.
”Namanya Raka. Kemarin dia menyatakan cintanya kepadaku. Dan aku menerimanya.”ucapmu.
”Hmmm…bagus itu.”komentarku datar. Bibirku tersungging meski hatiku tersinggung pedih sakit. Tapi aku tidak boleh kelihatan sedih didepanmu. Aku harus tegar sekuat batu karang yang kokoh tak bergeming dilanda ombak yang mengganas. Walaupun ketegaranku cuma pura-pura belaka.
Setelah itu kamu tidak pernah lagi ke perpustakaan, kamu menghilang. Bahkan nomor handphonemu pun tidak aktif. Apakah karena kamu sudah menemukan tambatan hatimu si Raka itu, lantas kamu melupakanku begitu saja? Setidaknya aku hanya ingin kamu anggap sebagai temanmu, karena sudah tidak mungkin lagi aku berharap menjadi cintamu.
***
Sudah dua bulan. Tidak! Persisnya sebulan lebih dua puluh hari sejak aku kehilangan kamu. Namun kenangan kerlingan sepasang mata dan senyum lesung pipitmu begitu menghanyutkanku. Dari bangku perpustakaan inilah selalu kuperhatikan wajahmu nan ayu ketika kita duduk saling berhadapan.
Bibirmu yang begitu ranum dan setengah membuka saat membaca buku. Sepertinya bibir itu baru saja terlepas dari ciuman panjang dan hangat yang belum terpuaskan. Helai-helai rambutmu yang panjang hitam legam lurus terurai bergerak disaput sepoi angin nakal yang muncul dari jendela, sehingga seringkali kamu berusaha untuk menyibaknya kembali ke belakang jika rambut indahmu menyapa nakal permukaan wajahmu yang ayu.
Ketenanganmu membaca buku, gemulai tanganmu yang membolak-balik buku memperlihatkan sifat alami yang tak terbatasi ruang dan waktu. Ah aku sepertinya tidak akan sanggup melupakanmu. Hakikat esensi dirimu yang lembut telah menciptakan rasa pengabdian yang begitu kokoh dalam sisi kejantananku.
Kamu telah terlanjur membuat hatiku terbakar dan meleleh perlahan menyakitkan. Kamu membuat lidahku tak lagi merasa nikmat mengecap rasa makanan yang kata orang-orang begitu lezat. Tahukah kamu aku selalu memikirkan hal yang sama setiap hari setelah kamu menghilang. Apakah kini mungkin bagiku untuk benar-benar berhenti menatapmu?
Mungkinkah aku akan benar-benar melupakanmu? Tapi semuanya itu berlangsung diluar kendaliku. Sebulan lebih dua puluh hari aku selalu mengelilingi perpustakaan ini, begitu seringnya, hingga aku dapat mengenali tata letak semua buku yang ada di rak perpustakaan ini melebihi pengetahuan penjaga perpustakaan ini. Namun terlepas betapa aku telah menunggumu dan mencarimu di perpustakaan ini, semuanya sia-sia belaka. Aku selalu saja kalah.
***
Hari ini seperti biasanya kulewatkan waktu istirahat siangku dengan membaca di perpustakaan. Dari jendela yang terbuka aku dapat menatap hujan yang turun. Dalam cuaca hujan aku merasa bebas dan santai, seolah-olah tetes titik hujan membasuh pikiran-pikiran sedihku.
Akan tetapi, hari ini aku merasa ada suatu perasaan istemewa yang mengendap dalam ceruk mataku masuk menjelajahi pikiranku. Kulihat sosok wanita berpakaian putih, laksana seorang malaikat berjalan menuju arahku. Lantas wanita itu berdiri didepanku. Kudongakkan kepalaku memandangnya. Kerlingan sepasang mata dan senyum lesung pipit itu, tidak mungkin kulupa. Itu kamu. Ya, itu kamu.
Aku tetap duduk. Aku terdiam bagai batu gapura candi, merasa bagaikan seorang yang bermimpi dan tidak ingin bangun dari mimpinya. Aku merasa mendapatkan suatu kepuasan yang tak terungkapkan—seperti seorang anak kecil yang bahagia karena dibelikan kembang gula oleh ibunya.
Kamu mengambil tempat duduk, lalu duduk dihadapanku. Jantungku berhenti berdetak. Kutahan nafasku karena cemas kalau-kalau nafasku akan membuatmu menghilang lagi, minggat dari keberadaanmu, seolah-olah kamu adalah kepulan asap rokok yang biasanya kuhisap nikmat.
”Bagaimana kabar kamu?” tanyamu mengawali pembicaraan.
Wajahmu menunjukkan ekspresi tenang. Tapi matamu seolah menyembunyikan sesuatu.
”Aku baik-baik saja” jawabku.
Keringat dingin membasahi dahiku. Kusapu dengan ujung lengan bajuku.
”Aku tahu kamu selalu berada di perpustakaan ini. Aku hendak memberikan ini kepadamu.”katamu seraya menyodorkan sebuah undangan pertunangan. Tertera namamu dan Raka di bagian depannya. Aku bisa membaca isinya walau aku tidak membukanya.
”Selamat ya…”ucapku menyembunyikan sedih.
Kusodorkan tanganku hendak menyelamati kamu. Tapi kamu menampiknya. Lantas aku hanya terdiam. Aku sungguh tidak mengerti.
”Hugghhh…Ternyata selama ini aku bodoh…”katamu.
”Bodoh?” tanyaku penasaran.
”Ya, aku bodoh, aku mengira kamu mencintaiku.”
Kutundukkan wajahku.
”Kamu tidak bodoh, aku memang mencintaimu.”ujarku lirih hingga seperti sebuah bisikan saja.
Entah mengapa kamu malah menangis terisak.
”Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak sedari dulu sewaktu kita bertemu.?” ucapmu.
”Aku…a..ku…aku takut kamu tolak.”
”Tahu tidak?! Untuk berkenalan denganmu aku sengaja menaruh buku agendaku di atas meja perpustakaan tempat biasanya kamu membaca buku, tujuanku supaya kamu bisa menemukannya dan mengembalikannya kepadaku. Sudah lama aku melihatmu di perpustakaan ini. Sudah lama aku diam-diam mencintaimu, bahkan sebelum kita berkenalan. Tapi mengapa kamu hanya diam saja, bahkan saat Raka hadir dalam kehidupanku? Wanita itu butuh ketegasan dari laki-laki!”isakmu.
Aku sungguh kaget dengan penuturanmu. Benarkah itu semua? Kalau begitu selama ini aku sungguh bodoh sekali.
”Tapi kini semuanya sudah terlambat. Tidak ada kesempatan lagi untukku.”kataku sambil kutatap undangan darimu.
”Rio…Tidak ada kata terlambat! Betapapun Dewi fortuna adalah sosok perempuan yang berkenan hanya terhadap laki-laki yang berani, punya nyali dan mampu menguasai setiap kesempatan, bukan laki-laki yang hanya diam dan menyerah kalah!”serumu memecah kebimbangan hatiku.
Aku segera tersadar, lantas aku berlutut didepanmu dan meneriakkan gema yel-yel dalam perpustakaan ”Aku cinta padamu Laras, aku sayang padamu Laras….”, tanpa peduli dengan tulisan ’harap tenang’ yang tertempel disetiap sudut temboknya, tanpa peduli pada amukan penjaga perpustakaan yang matanya melotot seperti penjagal berdarah dingin dan suaranya menggelegar seperti petir mengancamku untuk tenang dan diam.
Kamu hanya mendekapku dalam tangisan. Entah mengapa aku sangat bahagia sekali saat kamu membisikkan ”bawalah aku pergi dalam duniamu, dalam kerajaan hatimu…” Ternyata selama ini kita benar-benar berada dalam cinta yang sama. Bukan hanya dalam khayalanku saja.
Kini aku tak tahu darimana harus kumulai kata untuk meminangmu. Memintamu menjadi pendamping hidupku, bukan sekedar pacar. Tapi sebelumnya biarkanlah aku dongengkan perihal kerajaan hatiku kepadamu — dimana rajanya adalah aku dan permaisurinya adalah kamu.
*****Pepatah
Ungkapan perasaan cinta memang bukan hanya sekadar kata, namun cinta dapat pula diungkapkan dengan genggaman tangan yang erat namun lembut, pun tatapan hangat namun tajam setajam isi hati. Tetapi itu bukanlah alasan bahwa kamu boleh memendam perasaan cinta.
Cinta harus diungkapkan dengan perkataan, karena cinta butuh kepastian. Kepastian yang menyatakan isi hati. Ketahuilah, perkataan adalah sosok yang paling mampu untuk mewakili isi hati, karena sedekat apapun kamu dengan seseorang, kamu tidak akan pernah mengetahui isi hatinya.
Berani dan jujurlah dengan perasaanmu. Singkirkan rasa takutmu, karena pada hakekatnya, cinta hanyalah untuk mereka yang berani, bukan mereka yang pengecut, yang hanya bisa memuji dalam hati, mengagumi dalam mimpi.

Jumat, 14 September 2012

kebiasaan yang baik


Sejak bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Allah mulai memperkenalkan hukum-hukum-Nya dan mengajarkan kepada mereka. Ajaran Allah kepada mereka tidak hanya berupa teori saja, tetapi juga “praktek” – pertunjukkan kuasa Allah. Bahkan generasi yang lahir pada masa perjalanan dari Mesir ke tanah Kanaan, diberikan pelajaran tentang hukum Allah sejak dari kecil.

Saudara, kebiasaan yang baik ini ternyata menjadi sia-sia tatkala mereka mulai berkenalan dengan penduduk asli Kanaan. Kita tahu bahwa Israel adalah bangsa penggembala. Mereka ahli dalam “mendidik” kambing domba. Tetapi berhadapan dengan “mata kuliah” pertanian, Israel ibarat murid SD yang diberi pelajaran universitas. Karena itu saat mereka belajar bercocok tanam, mereka meminta petunjuk kepada penduduk asli Kanaan tentang cara-cara bertani yang baik. Mengapa penduduk Israel ingin bercocok tanam? Karena Kanaan adalah tanah yang subur, terutama pada daerah sepanjang sungai dan dataran sepanjang pantai. Jadi dengan bercocok tanam, “income” mereka pasti naik.

Sayang, pelajaran yang diberikan oleh penduduk Kanaan kepada orang Israel menjadi malapetaka yang berkepanjangan. Mengapa? Karena penduduk Kanaan selalu menyertakan berhala mereka dalam bercocok tanam, dan cara ini juga ditiru oleh orang Israel.
Salah satu berhala yang terkenal dan sering dipuja bangsa Kanaan adalah Baal. Berhala ini dipercayai sebagai dewa kesuburan dan pembawa hujan. Jadi tidak heran bila bangsa Kanaan selalu menyembah Baal sebelum mereka memulai bercocok tanam.
Akhirnya bisa ditebak. Orang Israel tidak lagi mengandalkan Allah yang telah menuntun mereka keluar dari tanah Kanaan. Mereka lebih percaya kepada Baal, yang katanya lebih “berpengalaman” dari pada Allah nenek moyang mereka dalam hal bertani ini.
Anda lihat, didikan Allah selama bertahun-tahun menjadi sia-sia. Adat kebiasaan yang baik yang diberikan melalui nabi-nabi hanyalah kisah dongeng yang tidak berarti. Mereka terus jatuh dalam penyembahan berhala yang satu ke penyembahan berhala yang lain.

Saudara, firman Tuhan adalah instruksi yang terbaik bagi kita. Jangan abaikan setiap pelajaran yang telah Tuhan berikan kepada kita melalui guru-guru dan pendeta kita. Mereka adalah alat bagi Allah untuk mendidik kita dalam kebenaran. Waspadalah terhadap usaha-usaha iblis yang hendak menghancurkan gereja Tuhan melalui ajaran-ajaran yang menyesatkan.

Renungan:
Alkitab adalah penuntun yang benar. Jangan mencari tuntunan lain melalui buku-buku yang tidak mendidik ataupun melalui majalah-majalah dunia. Milikilah ajaran yang murni dari Allah dan jauhilah polusi ajaran dunia yang mencelakakan.

Alkitab adalah buku yang terbaik, terakurat, terpercaya, dan ter-“up-to-date” untuk umat manusia.
Ayat Bacaan : Yesaya 28:23-29; 1 Petrus 2:12

“Mengenai adat kebiasaan ia telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya”(Yesaya 28:26)

berbicaralah dengan benar

Ayat Bacaan : Yesaya 28:7-22; Efesus 4:25

“….. sebab kami telah membuat bohong sebagai perlindungan kami, dan dalam dusta kami menyembunyikan diri”
 (Yesaya 28:15)

seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Bu, apakah bohong itu?” Ibunya menjawab, “Anakku, bohong adalah kekejian bagi Tuhan…. tetapi pertolongan yang menyenangkan pada saat dibutuhkan!”
Apakah Anda “mengaminkan” perkataan ibu ini? Ya, kadang-kadang, bahkan sering kali kita berbohong untuk menghindarkan diri dari masalah. Tetapi sejauh manakah bohong itu dapat dibenarkan? Padahal firman Tuhan berkata, “Karena itu BUANGLAH DUSTA dan BERKATALAH BENAR seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Efesus 4:25).

Beberapa orang berkata bahwa bohong adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan. Bohong adalah bumbu penyedap percakapan. Bohong adalah seni dalam bergaul dan berinteraksi dengan sesama. Dan herannya, orang yang suka ngibul (kalau tidak ketahuan) biasanya punya banyak kawan. Misalnya saja Anda adalah orang yang suka mengobral pujian. Hari itu Anda melihat teman wanita di kantor Anda yang baru pertama kali pakai rok mini. Meskipun untuk ukuran petinju, ia termasuk sekelas dengan Mike Tyson, tapi dengan gaya yang dibuat-buat ia berlenggak-lenggok membanggakan rok mininya yang dibelikan pamannya di Prancis.
Anda berkata, “Halo bidadari, hari ini kamu kelihatan cantik dan sangat pas dengan rokmu. Amboi kau begitu mencengangkan dunia hari ini.”
Padahal kalau mau jujur, pakaian yang dipakainya sama sekali tidak cocok!

Mengapa Anda tidak komentar yang benar atau diam saja? Kalau Anda komentar pujian, Anda terjebak dalam kebohongan yang Anda pikir oke-oke saja. Dan biasanya kalau Anda sudah menjadi “kulina” (terbiasa) dengan bohong-bohong “putih” Anda akan terus terikat. Seperti heroin yang mengandung zat candu yang membuat keranjingan untuk terus mencoba, demikian pula dengan orang yang biasa berbohong. Apa Anda pikir bahwa Tuhan “memaklumi” kebohongan-kebohongan yang Anda lontarkan?

Kalau Anda menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus selama di bumi, Anda tidak akan pernah menemukan satu pun kebohongan yang ia buat. Petrus berkata bahwa Yesus tidak pernah berdusta (1 Petrus 2:22). Ini kebalikan dengan setan. Yesus berkata bahwa ia adalah Bapa segala dusta (dusta “putih” tidak termasuk???) (Yohanes 8:44).
Kalau Anda rindu menjadi seperti Yesus, Anda juga harus belajar untuk tidak berbohong. Jadi buanglah basa-basi Anda yang penuh dengan kebohongan itu. Belajarlah mulai hari ini untuk berbicara benar.

Renungan:
Coba Anda hitung, berapa kalikah Anda berbohong hari ini? Kemarin? Atau hari-hari sebelumnya? Kurangilah kata-kata bohong Anda. Jangan banyak basa-basi yang tidak perlu. Karena basa-basi tanpa kasih adalah dusta semata.

Lebih baik kritikan daripada pujian dusta.

Selasa, 11 September 2012

semangat

Pada jaman dahulu ada seorang Jendral dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak.

Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan dan mati sia-sia.

Di tengah perjalanan menuju medan perang, Jendral itu singgah di sebuah kuil kecil. Ia sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. 

Sedangkan prajuritnya menanti di luar kuil itu dengan harap-harap cemas. 

Tak lama kemudian, sang Jendral keluar dari kuil tersebut.

Ia berteriak pada seluruh pasukannya, “Kita telah mendapat petunjuk dari langit.” 

Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, 

“Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada nasib.”

Jendral lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di udara. Lalu jatuh berguling-guling di tanah. 
Seluruh pasukan mengamati apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu terhenti. 

Dan yang muncul adalah KEPALA !!! 

Kontan seluruh pasukan berteriak kesenangan. “Horeeee..!!! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita, Ayo serbu dan hancurkan musuh. Kemenangan telah pasti.”

Dengan penuh semangat Jendral dan pasukan itu bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Ternyata dengan keyakinan dan tekad yang membaja akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. 

Jendral dan seluruh pasukannya betul-betul senang. Seorang prajurit berkata, “Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib.”

Sesampai di ibu kota mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dashyat itu. Beliau bertanya pada sang Jendral bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. 

Sang Jendral kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, “Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik.”

Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata KEDUA SISINYA bergambar: KEPALA!

Senin, 13 Agustus 2012

Cintaa dan cinta

 Cinta … Cinta … Dan, cinta! Selalu terlihat rumit dan sangat sulit untuk mengerti. Kamu merasa seperti jantungmu berhenti berdetak sejenak ketika melihat dia yang kamu cinta. Cinta, kita mendengar begitu banyak kisah dan tentu saja sakit hatinya juga.

Dalam cinta, kamu bisa berkomitmen dirimu dengan seseorang yang istimewa di hatimu bahwa kamu ingin menghabiskan sisa hidup ini bersama-sama. Kamu berusaha untuk membangun sebuah persahabatan yang akan mengikat cinta kamu dan dia selamanya.

Namun, ada sebagian orang yang tak pernah berhasil dalam melakukannya. Mereka yang begitu merindukan seseorang untuk mencintai dan dicintai, tapi begitu sulit bagi mereka untuk menemukannya di tempat yang tepat, pada saat yang tepat dan dengan orang yang tepat. Kemudian membuatnya menyadari bahwa mencintai seseorang itu tak mudah sama sekali.

Berikut adalah beberapa kenyataan yang menyakitkan dalam cinta:

Kamu menemukan cinta yang sempurna, tapi dalam waktu yang salah.
Kamu menemukan dia yang sempurna, tapi dia tak mencintaimu.
Kamu akhirnya menemukan dia yang sempurna, tapi kamu harus setia pada dia yang mencintaimu.
Kamu memiliki wajah yang sempurna, tapi tak ada seorangpun yang ingin serius denganmu.
Kamu menemukan dia yang memiliki kepribadian menyenangkan, tapi dia hanya ingin berteman.
Kamu memiliki pikiran yang menakjubkan, tapi hati yang sangat rapuh.
Kamu akhirnya menemukan keberanian untuk ungkapkan cinta, tapi segalanya telah terlambat.
Kamu akhirnya berani mencinta, tapi dia yang ingin kamu cinta telah ada yang punya.
Kamu akhirnya berani mencinta, tapi kamu tak tahu harus bagaimana memulainya.  

Selasa, 31 Juli 2012

19. Besar Setia-Mu (Great Is Thy Faithfulness) Thomas O. Chisholm, 1923 William M. Runyan, 1923 FAITHFULNESS 1=D 3/4 Versi 1 1: Besar setiaMu, Allah Bapaku, besarlah KasihMu berk’limpahan. Tiada kurang dan tidak berubah, sempurna dan tetap selamanya. Ref. Besar setiaMu, besar setiaMu, tiap hari nampak rahmat baru. S’gala yang ku perlu t’lah Hu sediakan besar setiaMu kepadaku. 2: Matahari serta bintang dan bulan, menyaksikan kesetiaan Tuhan. Musim menuai dan musim apapun, menyaksikan kasih setiaMu. 3: Pengampunan dosa memb’rikan damai, kehadiran Tuhan menghiburkan. Kekuatan dan penghiburan tiap hari, berkat berk’limpahan ku alami. Versi 2 1: Great is thy faithfulness, O God my Father; There is no shadow of turning with Thee; Thou changest not, Thy compassions, they fail not; As thou hast been, Thou forever will be. Ref. Great is Thy faithfulness! Great is thy faithfulness! Morning by morning new mercies I see. All I have needed thy hand hath provided; Great is Thy faithfulness, Lord, unto me! 2: Summer and winter and springtime and harvest, Sun, moon and stars in their courses above Join with all nature in manifold witness To Thy great faithfulness, mercy and love. 3: Pardon for sin and a peace that endureth Thy own dear presence to cheer and to guide; Strength for today and bright hope for tomorrow, Blessings all mine, with ten thousand beside!

kok bisa yah

Bacaan : Yesaya 37-39; Mazmur 76 Nats : Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel (Hakim-hakim 2:10) KOK BISA, YA? Bacaan : Hakim-hakim 2:6-14 "Kok bisa, ya? Padahal orangtuanya tidak begitu." Anda mungkin pernah mendengar ekspresi demikian ketika anak-anak muda dianggap tidak mengikuti teladan orangtuanya. Misalnya saja sang bapak pendeta, tetapi si anak terjerat narkoba; sang ibu guru Sekolah Minggu, tetapi si anak biang keributan. Herankah Anda? Atau Anda biasa melihat fenomena serupa? Saat mengamati ayat ke-10, mungkin Anda juga bertanya, "Kok bisa, ya?" Bukankah ayat 7 mencatat bahwa sepanjang hidup Yosua dan para tua-tua yang pernah dipimpinnya, bangsa Israel setia beribadah kepada Tuhan? Bagaimana mungkin angkatan sesudah mereka tak lagi mengenal Tuhan? Kita tak tahu pasti prosesnya, tetapi akibatnya terekam jelas: terbentuk generasi baru yang melakukan kejahatan di mata Tuhan, berpaling menyembah ilah lain (ayat 11-13). Sebab itu, Tuhan murka dan menyerahkan mereka ke tangan musuh (ayat 14). Besar kemungkinan, Ulangan 6:4-9 tidak lagi diterapkan secara konsisten oleh para orangtua. Ibadah-ibadah raya mungkin tetap berlangsung, tetapi anak-anak tidak memahami apa bedanya dengan ibadah bangsa lain. Mereka mungkin melihat ritualnya, tetapi tak mengenal Tuhan-nya. Lebih dari sekadar memperkenalkan gedung gereja dan membawa anak ke Sekolah Minggu, orangtua bertanggung jawab memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Dari hati yang mengenal dan mencintai Tuhan, akan lahir sikap beribadah kepada-Nya. Gereja perlu lebih bersungguh hati memperlengkapi para orangtua untuk bisa mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak, dan makin sering mengumandangkan peringatan ini: kelalaian generasi kita dapat menyebabkan kehancuran bagi generasi berikutnya. --ELS PENGENALAN AKAN TUHAN YANG DIPELIHARA DI TIAP KELUARGA AKAN MEWARISKAN IMAN YANG BERTUMBUH PADA GENERASI BERIKUTNYA.

Senin, 30 Juli 2012

Me


Hikmat dan kekayaan

Kejadian 41:17-36  Sumber utama hikmat dan kekayaan Kekayaan dan kekuasaan sering membuat orang lupa kepada Allah yang merupakan sumber kekayaan, kuasa, dan hikmat. Sebagai orang yang paling berkuasa dan paling kaya di Mesir, Firaun tidak membayangkan bahwa mimpi yang ia alami ternyata membuat dirinya ketakutan dan khawatir, apalagi setelah ia mendapati bahwa tidak seorang pun dapat mengartikan mimpi tersebut. Pengalaman Yusuf dalam menafsirkan mimpi juru minuman telah membawa dirinya bertemu orang paling berkuasa di Mesir. Melalui penjelasan Yusuf, Firaun bukan saja mendapat jalan keluar dari kekhawatirannya, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal Allah yang disembah oleh Yusuf. Melalui hikmat Tuhan kepada Yusuf, Firaun bukan saja mengetahui apa yang akan terjadi dengan kerajaannya, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan agar bahaya kelaparan tidak menghancurkan negerinya. Yusuf bukan saja telah menolong Firaun untuk melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi ia juga menolong Firaun untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan segera di masa sekarang. Sungguh ironis, bahwa orang yang paling berkuasa di Mesir harus meminta nasihat dari seorang tahanan. Namun jika ada Allah yang mengatur semua itu, maka segalanya mungkin. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa melalui kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat menjalankan rencana-Nya secara sempurna. Sekalipun kondisi Yusuf sangat jauh di bawah keadaan yang normal, namun Tuhan dapat mengubah kehidupan Yusuf secara seketika. Dari seorang tahanan di Mesir, menjadi seorang paling berkuasa setelah Firaun tidaklah mungkin terjadi tanpa pertolongan Tuhan. Tidak jarang kehidupan kita pun seolah terperosok begitu dalam hingga kita sulit melihat jalan keluar dari keadaan tersebut. Tetapi lihatlah bagaimana Tuhan dapat mengubah hidup Yusuf secara luar biasa. Sebagaimana Yusuf bergantung pada hikmat Tuhan, kita pun harus bergantung pada-Nya. Sebagaimana kuasa Tuhan telah mengubah Yusuf, kuasa yang sama itu juga mampu meluputkan kita.

Minggu, 29 Juli 2012

Bijaklah menggunakan LIDAHMU !!

Renungan Harian Senin, 16/07/2012 Senin, 16 Juli 2012 Bacaan Setahun : Yesaya 18-22 Nats : Dengan lidah kita memuji Tuhan dan Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia ... dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. (Yakobus 3:9-10) BIJAK BERKATA-KATA Bacaan : Yakobus 3:1-12 Sariawan. Anda pernah mengalaminya? Luka di rongga mulut ini memang sangat mengganggu. Selain menimbulkan rasa sakit saat minum dan mengunyah makanan, ternyata sariawan juga bisa membuat Anda kesakitan saat berbicara. Apalagi jika letaknya di lidah. Ketika menulis renungan ini, ada dua buah sariawan di lidah saya. Akibatnya, saya sangat berhati-hati ketika berbicara, minum, dan makan. Kalau tidak benar-benar penting, saya memilih untuk diam. Walaupun tak mudah, itu lebih baik, daripada sakit. Bersikap hati-hati dalam berbicara, bukanlah hal yang mudah. Apalagi dalam keadaan kesal atau marah. Kebanyakan orang lebih suka mengungkapkan kekesalan atau amarahnya lewat kata-kata. Hal seperti itu sebenarnya wajar saja. Namun sayang, keadaan emosional mudah membuat seseorang kehilangan kendali. Akhirnya, kata-kata yang keluar adalah kata-kata kasar. Caci maki. Bahkan kutukan. Yakobus menegaskan fakta bahwa tidak ada orang yang sempurna dalam perkataannya (ayat 2); tidak seorang pun yang dapat menjinakkan lidah (ayat 8); lidah yang sama juga memuji Allah sekaligus mengutuki manusia (ayat 9-12). Mengerikan, bukan? Itulah sebabnya ia mengajar kita untuk mampu menguasai lidah dengan cara lambat berkata-kata dan juga lambat marah (Yakobus 1:9). Pepatah berkata: "Lidah tak bertulang". Kita harus belajar berhati-hati dan tidak tergesa-gesa mengucapkan sesuatu. Biarlah lidah kita dipimpin Tuhan untuk memuliakan nama-Nya dan memberkati orang-orang di sekitar kita. Bersikaplah bijak dalam berkata-kata. Setiap saat. Bukan ketika sedang sakit sariawan saja. --OKS ORANG YANG BERPENGETAHUAN MENAHAN PERKATAANNYA, ORANG YANG BERPENGERTIAN BERKEPALA DINGIN. -AMSAL 17:27 Diskusi renungan ini di Facebook: http://apps.facebook.com/renunganharian/home.php?d=2012/07/16/ Renungan Harian. diambil dari sabda.org

Tolak ukur karakter seseorang

Bacaan : Yesaya 23-27 Nats : Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Timotius 6:10)
Richard Halverson, seorang penulis dan pendeta senat AS, pernah menulis: Yesus Kristus berbicara tentang uang lebih dari hal-hal lain, karena ketika tiba pada sifat alami manusia, uang memegang peran terpenting. Uang merupakan indeks yang tepat untuk menunjukkan karakter sejati seseorang. Di seluruh halaman Kitab Suci, ada kore- lasi yang sangat dekat antara perkembangan karakter manusia dengan cara ia menangani uangnya. Banyak tokoh di Alkitab yang dikecam, dihukum, atau dipuji oleh Allah karena sikap mereka terhadap uang. Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan Yesus demi tiga puluh uang perak. Ananias dan Safira rebah dan mati seketika setelah berdusta perihal uang yang mereka serahkan. Mereka adalah contoh orang-orang yang jatuh dalam pencobaan berkenaan dengan uang. Uang membuat mereka terjerat dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, hingga akhirnya menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka (ayat 10). Namun, ada kisah janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus karena memberi dari kekurangannya. Atau, jemaat Makedonia yang disebut Paulus sangat miskin, tetapi kaya dalam kemurahan (lihat 1 Korintus 8). Mereka ialah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan hati kepada Allah, lalu uang mereka. Uang hanya salah satu sarana yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Uang adalah berkat, bukti pemeliharaan Allah atas kita. Uang harus menjadi hamba kita. Jika kita cinta uang, uang akan menjadi tuan kita. Bagaimana Anda menangani uang? Mana yang lebih Anda cintai: Allah dan firman-Nya, atau ... uang? --SAR ALLAH HARUS MENJADI TUHAN ATAS DIRI KITA DAN JUGA UANG KITA.

Galau

Bacaan : Hosea 8-14 Nats : Itulah sebabnya, ketika tidak dapat tahan lagi, aku mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku khawatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. (1 Tesalonika 3:5) Bacaan : 1 Tesalonika 3:1-13 Galau. Ini istilah yang ingin menunjukkan sebuah perasaan yang tidak keruan, tidak tenang, atau risau, apapun penyebabnya. Ketika seseorang menjumpai sebuah kondisi yang membuat ia merasa tak keruan dan tak tenang, sepertinya ia berhak merasa galau. Namun, mungkin saja setelah ditelusuri, sebenarnya rasa galau bisa berasal dari hal yang sangat sepele dan kurang tepat dijadikan penyebab kegalauan. Paulus pernah galau dan itu sangat memengaruhi perasannya. Namun, kegalauan itu tak membuatnya duduk merenung dalam nestapa. Ia menindaklanjuti rasa galaunya dengan mengirim Timotius mengunjungi jemaat Tesalonika. Ia berharap Timotius bisa menasihati dan menghibur mereka (ayat 2). Rasa galaunya pun berubah menjadi sukacita setelah ia mendengar kabar dari mereka (ayat 6-7). Rasa galau itu sesungguhnya bersumber pada cintanya kepada orang-orang yang ia layani. Perasaannya tak keruan karena ia tidak dapat mengikuti perkembangan pelayanannya. Ia juga risau kalau-kalau orang-orang yang ia layani mengalami kesulitan bertumbuh. Saya menyebut ini sebagai rasa galau yang ilahi. Betapa berharganya rasa galau yang tidak bersumber pada diri kita sendiri. Galau yang ilahi terjadi ketika kita mencoba satu perasaan dengan Tuhan. Selama ini, seberapa dalam kita peduli dengan pelayanan kita? Pernahkah kita merasa hati tidak keruan ketika melihat orang yang kita layani tidak bertumbuh sebagaimana mestinya? Juga, karena pelayanan yang kita jalani tidak berjalan sebagaimana kita harapkan? Lalu, bagaimana selama ini kita menindaklanjuti kecemasan seperti itu?  "KITA BOLEH MERASA RESAH APABILA KITA YAKIN BAHWA ITU PUN YANG SEDANG DIRASAKAN ALLAH."

Selasa, 24 Juli 2012

Panjinya adalah CINTA

Dua kata Ibrani, degel dan nes, diterjemahkan dengan ‘panji-panji’. Panji-panji ini berguna:
Untuk mengenali masing-masing kelompoknya atau sukunya (Bilangan 1:52).
Sebagai pemersatu (Yesaya 11:12).
Sebagai penuntun kepada kota yang aman (Yeremia 4:6).
Sebagai simbol kebanggaan dan kemenangan dalam peperangan (Yeremia 4:21).
Sebagai tanda yang menyertai suatu pengumuman (Yeremia 50:2).
Sebagai tanda untuk membunyikan sangkakala (Yesaya 5:26).


Salah satu peristiwa penting yang berkaitan dengan panji ini adalah ketika terjadi peperangan antara Bangsa Israel melawan orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Musa mengangkat tangan sebagai panji hidup yang bilamana tangan itu terangkat, maka Israel dapat mengalahkan musuhnya. Sebaliknya, bila tangan Musa turun, maka Bangsa Amaleklah yang menang. Dengan dibantu oleh Harun dan Hur dengan menopang tangan Musa sebagai panji hidup itu, maka orang Israel memukul kalah musuhnya. Setelah kemenangan ini Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: Tuhanlah panji-panjiku (Yehova Nissi).

Bila Tuhan adalah panji-panji kita juga, maka panji-panji itu adalah kasih. Sebab firman Tuhan berkata bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih inilah yang menjadi jaminan kemenangan kita. Firman Tuhan berkata, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:32)? Kasih ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan umat Allah. Setiap hari mereka berjalan dengan panji-panji kasih ini. Dan selama kita hidup di dalam kasih, maka panji kasih Allah ini akan tetap terangkat. Sebagaimana tangan Musa terangkat, maka kemenangan menjadi milik kita.

Tetapi apabila kita mulai mempunyai akar kepahitan, berarti kita tidak hidup di dalam kasih. Panji itu mulai kita turunkan tanpa kita sadari. Dan sebagaimana Bangsa Israel mengalamai kekalahan apabila panji itu diturunkan, demikian juga dengan kita. Kita akan mengalami kekalahan demi kekalahan selama panji itu tidak kita tegakkan kembali. Karena itu jangan menyimpan dendam dan kemarahan kepada saudara-saudara kita. Hal itu akan merugikan Anda sendiri. Mungkin akibat buruk ini tidak langsung nampak, tetapi lambat laun kekalahan itu semakin nyata dan tahu-tahu Anda berada di tepi jurang kebinasaan.

Renungan:
Camkan dalam hati bahwa setiap orang percaya adalah orang-orang yang berada dalam barisan pasukan Allah dengan panji-panji yang dikibarkan. Pasukan ini adalah pasukan yang telah ditentukan untuk menang. Hanya Anda sendiri yang tidak dapat menikmati kemenangan apabila Anda tidak hidup dalam kasih.

Allah memberikan kemenangan, kita menjaga kemenangan itu.

Senin, 23 Juli 2012

Sama dengan Binatang

Seorang pemimpin pemberontak diberikan kebebasan penuh untuk meminta sesuatu sebelum ia dihukum pancung. Karena selama ini keinginannya untuk menjadi seorang raja belum kesampaian, maka ia minta untuk bisa duduk di kursi raja dan dilayani sebagaimana layaknya seorang raja. Permintaan itu dituruti. Selama 3 hari sebelum deadline itu ia diberi jubah raja, tongkat kerajaan, dan dayang-dayang yang siap melayaninya. Ia juga disiapkan hidangan yang lezat-lezat setiap hari. Sayang, itu hanya berlangsung 3 hari saja sebelum datangnya hari penghukuman!

Saudara, tidakkah ini yang terjadi dengan manusia yang selalu berpikir untuk kesenangannya sendiri? Mereka mengira bahwa hidup mereka hanya berakhir di bumi ini saja. Mereka sengaja mengabaikan akan adanya pengadilan Ilahi. Orang-orang semacam ini tidak ubahnya dengan pemimpin pemberontakan yang akan dihukum pancung. Dalam hidup mereka di dunia ini mereka hidup tanpa memperdulikan hukum Allah. Yang mereka pikirkan adalah kepuasan daging saja. Bahkan Petrus dengan berani berkata, “Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar” (2 Petrus 2:12).

Biasanya dalam surat-suratnya, perkataan Petrus tidaklah “segalak” surat-surat Paulus. Tapi kali ini ia membuat suatu pernyataan yang pasti menyinggung perasaan para pengumbar nafsu, sebab Petrus menyamakan mereka dengan binatang yang dilahirkan hanya untuk ditangkap dan dimusnahkan. Saya pikir, anjing pudel masih lebih berharga, sebab binatang ini disukai dan dipelihara banyak orang. Coba Anda pikir, binatang apakah yang terlahir hanya untuk dimusnahkan? Kecoakkah? Lalatkah? Tikuskah? Atau adakah bintang lain yang lebih “rendah” lagi?
Bersyukurlah, Anda sebagai orang percaya bukanlah orang yang dimaksud oleh Petrus. Anda adalah orang-orang yang berharga di mata Allah. Tidak hanya itu saja, bahkan melalui Petrus pula Allah menyatakan bahwa kita adalah “…. bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri….” (1 Petrus 2:9).

Renungan:
Kalau Anda adalah seorang pemuda dengan semangat membara, janganlah kobarkan semangatmu itu pada tempat yang salah atau untuk kepuasaan dagingmu. Melainkan, kobarkan semangatmu untuk melayani Allah dan sesama. Kalau tidak, Yesus akan tampil sebagai Hakim untuk mengadilimu dan menghukummu.

Banyak orang tidak mau dipanggil “binatang”, tapi perbuatan mereka menyatakan demikian.

 Ayat Bacaan : Pengkhotbah 11:9-12:8; 2 Petrus 2:9-12

“Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan”
(Pengkhotbah 11:9)